Opinion Essay

Jangan Mau Cuma Jadi "budak" Algoritma

Author
Oleh: RIZKI SUWANDA, S.T., M.KOM 20 Apr 2026 17:46 WIB 46 Views
Cover Artikel
Animasi AI jangan jadi budak Algoritma (Sumber: Generated by AI)

Pernah terpikir tidak? Kita ini bangun tidur yang dicari langsung HP. Buka TikTok, scrolling Instagram, sampai jempol rasanya mau kaku. Kita merasa sangat "digital", padahal jujur saja, kebanyakan dari kita cuma jadi penumpang pasif. Kita bangga disebut digital native, tapi kalau ditanya bagaimana sebuah aplikasi bisa tahu apa yang kita suka, kita cuma bisa melongo.

Sebagai orang yang setiap hari berkutat dengan baris kode di Teknik Informatika, saya sering merasa gemas. Ada jurang besar antara "bisa pakai" dan "paham cara kerja".

Kalau cuma bisa pakai, Anda itu cuma konsumen. Dan konsumen adalah objek. Objek yang datanya dipanen, yang minatnya disetir oleh algoritma orang lain. Apa mau selamanya cuma jadi angka di statistik perusahaan teknologi luar negeri?

Logika di Balik Layar
Kemarin, saat saya mengisi materi di Diksar UKM SB Unimal di Lhokseumawe, saya sampaikan satu hal: Organisasi dan kepemimpinan itu butuh data. Sama halnya dengan teknologi.

Misalnya soal riset Naive Bayes yang tim saya kerjakan untuk rekomendasi prodi. Itu bukan sekadar rumus matematika yang bikin pusing. Itu adalah alat. Alat supaya adik-adik SMA tidak salah pilih jurusan gara-gara ikut-ikutan tren atau sekadar "kata orang". Itulah esensi teknologi: membantu manusia mengambil keputusan yang lebih waras, bukan malah bikin kita makin malas berpikir.

Berhenti Jadi Penonton
Masa depan itu bukan soal siapa yang punya gadget paling mahal. Masa depan itu milik mereka yang paham logikanya.

Anak muda harus berani "ngoprek". Jangan cuma jadi penikmat konten hoaks yang disebar lewat grup WhatsApp. Mulailah bertanya: Kok bisa begini? Gimana cara kerjanya? Gimana kalau saya bikin yang lebih baik?

Paham teknologi bukan berarti Anda harus jadi programmer semua. Bukan. Tapi Anda harus punya digital mindset. Paham bahwa di balik layar yang mengkilap itu, ada logika, ada data, dan ada kepentingan. Kalau Anda tidak paham, ya siap-siap saja disetir.

Teknologi Sebagai Alat
Intinya sederhana saja. Teknologi itu alat, bukan majikan. Jadi, buat teman-teman muda, mulailah ambil kendali. Jangan biarkan masa depan Anda cuma ditentukan oleh algoritma yang bahkan tidak tahu nama Anda.

Belajarlah untuk jadi subjek, jadi pemain, bukan cuma jadi penonton yang rajin kasih like dan share. Dunia butuh solusi dari tangan kalian, bukan cuma jejak digital yang tidak ada isinya.

Lhokseumawe, 20 April 2026
Rizki Suwanda

Terima Kasih telah membaca! Semoga tulisan pada artikel ini bermanfaat sebagai informasi untuk Anda. Jangan ragu untuk membagikannya ke rekan-rekan atau meninggalkan jejak opini Anda di kolom komentar di bawah.

Ruang Diskusi (0)

Belum Ada Komentar

Jadilah yang pertama membuka diskusi pada artikel ini!